Cara penulisan daftar pustaka
Teknik Penulisan Daftar
Pustaka
1. Cara
penulisan nama.
A. Secara
umum daftar pustaka disusun secara alfabet berdasarkan nama akhir
penulis setiap buku. Data pustaka diketik dari margin kiri; jika lebih dari
satu baris, maka baris kedua dan seterusnya diketik satu spasi dengan jarak 1,2
cm dari margin kiri. Gelar dan titel akademik tidak harus dicantumkan, baik
dalam kepustakaan maupun dalam catatan kaki.
Contoh:
Agustian, Ary Ginanjar, ………………...……
Gunawan, Adi W., …………………..………
B. Nama penulis yang lebih dari satu kata,
ditulis nama akhirnya diikuti dengan tanda koma, kemudian nama depan yang
diikuti nama tengah dan seterusnya.
Contoh:
Nama: Ary Ginanjar Agustian, ditulis: Agustian,Ary Ginanjar.
Nama: Adi
W. Gunawan, ditulis, Gunawan, Adi W.
C. Nama penulis yang menggunakan Alif lam ma’rifah (al‐), maka “al” pada nama akhirnya tidak dihitung,
yang dihitung adalah huruf sesudahnya,
contoh:
nama Muhammad ibn Idris al‐Syafi’iy diletakkan dalam kelompok huruf S dan ditulis: Al‐Syafi’iy, Muhammad ibn Idris.
D..Nama penulis yang menggunakan singkatan, ditulis
nama akhir yang diikuti tanda koma, kemudian diikuti dengan nama depan lalu
nama berikutnya.
Contoh:
Nama:
William D. Ross Jr, ditulis: Ross, W. D. Jr.
2.
Referensi
berupa buku.
Unsur-unsur
yang harus dimuat adalah:
a. Nama
penulis yang disesuaikan dengan sistem penulisan katalog dalam Perpustakaan.
b. Judul
buku (dengan huruf italic) sebagaimana yang tercantum pada sampul buku atau
pada halaman judul buku, kemudian diikuti dengan jilidnya (kalau ada).
c. Data
penerbitan, yaitu cetakan atau edisi, tempat penerbit, nama penerbit dan tahun
terbitnya. Jika data penerbitan tidak ada atau salah satu datanya tidak ada,
maka digunakan singkatan berikut:
[t.d.] jika sama sekali tidak ada
data yang tercantum;
[t.t.] jika tempat penerbitan
tidak ada;
[t.p.] jika nama penerbit tidak
ada;
[t.th.] jika tahun penerbitan
tidak ada.
3.
Referensi dari
surat kabar atau majalah.
Unsur-unsur yang harus dimuat adalah:
a. Nama
Pengarang (jika ada);
b. Untuk
artikel yang tidak disertai nama pengarang (anonim) maka dicantumkan
Judul Artikel dalam tanda kutip, yang diikuti dengan keterangan dalam kurung
siku ([]) tentang jenis tulisan seperti berita atau tajuk;
c. Nama Surat Kabar/Majalah (dengan huruf italic); dan
d. Data Penerbitan, yakni: nomor, bulan dan tahun, kemudian halaman‐halaman di mana artikel itu dimuat.
Contoh:
Suryohadiprojo, Sayidman. “Tantangan Mengatasi Berbagai Kesenjangan.” Republika, No. 342/II, 21 Desember 1994, h. 6‐8
“PWI Berlakukan Aturan Baru.” [Berita]. Republika, No. 346/II, 28 Desember 1994, h. 16.
Sanusi, Bachrawi. “Ketimpangan Pertumbuhan Ekonomi.” Panji Masyarakat, No. 808, 1‐10 Nopember 1994, h. 30‐31 dan 45.
“PWI Berlakukan Aturan Baru.” [Berita]. Republika, No. 346/II, 28 Desember 1994, h. 16.
Sanusi, Bachrawi. “Ketimpangan Pertumbuhan Ekonomi.” Panji Masyarakat, No. 808, 1‐10 Nopember 1994, h. 30‐31 dan 45.
4.
Artikel dan
Ensiklopedia. Unsur-unsur yang harus ada adalah:
a. Nama
Penyusun Artikel,
b. Judul
Artikel dalam tanda kutip,
c. Nama
Editor Ensiklopedia (kalau ada),
d. Judul
Ensiklopedia (dengan huruf italic),
e. Jilid,
f. Data
Penerbitan, dan
g. Halaman
yang memuat artikel itu.
Contoh:
Edgel, Beatrice. “Conception.” Dalam James Hastings (ed.) Encyclopedia of Religion and Ethics. Jilid 3. New York: Charles Schribner’s Son, 1979, h. 796‐797.
5. Referensi Perundang-undangan.
Penerbitan yang dapat dijadikan sebagai referensi kepustakaan adalah naskah resmi yang diterbitkan oleh lembaga pemerintahan himpunan peraturan perundang‐undangan yang diterbitkan secara khusus.
Dalam hal ini dicantumkan:
a. Nama Lembaga Pemerintahan yang berwenang mengeluarkan peraturan bersangkutan,
b. Judul undang‐undang atau peraturan dan materinya,
c. Data Penerbitan.
Contoh:
Republik Indonesia. Undang‐Undang Dasar 1945.
Republik Indonesia. “Undang‐undang RI Nomor I Tahun 1985 tentang Perubahan atas Undang‐Undang nomor 15 Tahun 1969.” Dalam Undang‐Undang
Keormasan (Parpol & Golkar) 1985. Jakarta: Dharma Bakti, t.th.
Untuk sumber‐sumber yang tidak diterbitkan, misalnya tesis magister, atau disertasi doktor, maka unsur‐unsur yang perlu dicantumkan adalah:
a. Nama Penyusun,
b. Judul (dalam tanda petik), kemudian
c. Keterangan menganai disertasi, tempat dipertahankannya, dan tahunnya.
Contoh:
Halim, H. M. Arief. “Konsep Metode Dakwah dalam Al‐Qur’an.” Tesis. Ujung Pandang: Program Pascasarjana IAIN Alauddin, 1993.
Salim, Abdul Muin. “Konsepsi Kekuasaan Politik dalam Al‐Qur’an.” Disertasi. Jakarta: Fakultas Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah, 1989.
7. Pustaka yang disusun dua orang atau lebih.
a. Nama Penyusun,
b. Judul (dalam tanda petik), kemudian
c. Keterangan menganai disertasi, tempat dipertahankannya, dan tahunnya.
Contoh:
Halim, H. M. Arief. “Konsep Metode Dakwah dalam Al‐Qur’an.” Tesis. Ujung Pandang: Program Pascasarjana IAIN Alauddin, 1993.
Salim, Abdul Muin. “Konsepsi Kekuasaan Politik dalam Al‐Qur’an.” Disertasi. Jakarta: Fakultas Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah, 1989.
7. Pustaka yang disusun dua orang atau lebih.
a. Jika pustaka disusun oleh dua atau tiga orang, maka semua nama pengarang disebutkan secara lengkap
kecuali nama penyusun yang pertama disebut sesuai ketentuan di atas.
b. Nama penyusun kedua dan ketiga ditulis seperti biasa. Jika penyusun lebih dari tiga orang, maka hanya
nama penyusun pertama saja yang disebutkan sesuai ketentuan di atas, diikuti oleh istilah et al. (kata et
bukan singkatan, jadi tidak pakai titik, sedang al. adalah singkatan dari alii). Arti istilah et alii adalah “dan kawan‐kawan.”
Contoh:
Al‐Sayutiy, Jalal al‐Din ibn ‘Abd al‐Rahman ibn Abi Bakr, dan Jalal al‐Din Muhammad ibn Ahmad al‐Mahalliy. Tafsir al‐Qur’an al‐‘Azim. Juz I. Beirut: Dar al‐Fikr, 1401 H/1981 M.
Benjamin, Roger W., et al. Patterns of Political Development: Japan, India, Israel. New York: David McKay, 1972.
Sumber kedua di atas (Benjamin, Roger W., et al.) disusun oleh empat orang. Tiga penulis lainnya adalah Allan Adrian, Richard N. Blue, Stephen Coleman, yang telah diwakili oleh kata et al.
8. Buku Terjemahan. Unsur‐unsur yang perlu dicantumkan adalah:
a. Nama Pengarang Buku Asli,
b. Judul Buku Asli (Italic), diikuti kata‐kata: diterjemahkan oleh, yang langsung diikuti oleh Nama Penerjemah, kemudian diikuti dengan kalimat: dengan judul, yang langsung diikuti oleh judul terjemahan (italic), dan
c. Data Penerbitan.
Kalau buku terjemahan itu tidak diketahui judul aslinya, maka setelah nama pengarang, disebutkan judul terjemahannya, diikuti kata‐kata: diterjemahkan oleh, lalu nama penerjemah, tanpa menyebutkan lagi judul terjemahannya, karena telah disebut sebelumnya.
Contoh:
Al‐Zuhayliy, Wahbah. Al‐Qur’an al‐Karim, Bunyatuh al‐Tasyri’iyyah wa Khasa’isuh al‐Hadariyyah. Diterjemahkan oleh Mohammad Lukman Hakiem dan Muhammad Fuad Hariri dengan judul Al‐Qur’an: Paradigma Hukum dan Peradaban. Surabaya: Risalah Gusti, 1996.
Jika tidak diketahui judul aslinya:
Al‐Zuhayliy, Wahbah. Al‐Qur’an al‐Karim, Bunyatuh al‐Tasyri’iyyah wa Khasa’isuh al‐Hadariyyah. Diterjemahkan oleh Mohammad Lukman Hakiem dan Muhammad Fuad Hariri. Surabaya: Risalah Gusti, 1996.
9. Satu pengarang yang mempunyai dua buku atau lebih
Nama seorang pengarang yang mempunyai dua buku atau lebih yang digunakan dalam penulisan, disebutkan lengkap hanya sekali. Untuk bukunya yang kedua dan seterusnya, namanya diganti dengan garis sepanjang tujuh ketukan diikuti oleh titik, diikuti nama bukunya (italic), jilidnya (kalau ada), kumudian data penerbitannya.
Contoh:
Noer, Deliar. Gerakan Modern Islam di Indonesia, 1900‐1942. Cet. II; Jakarta: LP3ES, 1982.
______, Pemikiran Politik di Negeri Barat. Jakarta: Rajawali, 1982. Teknik Penulisan Daftar Pustaka http://muliadinur.wordpress.com | 6
10. Pustaka yang menumpang pada buku lain
Jika pustaka yang dipakai menumpang pada buku lain (sebagai hamisy), maka unsur yang perlu dicantumkan adalah:
a. Nama Pengarang Buku yang Menumpang,
b. Nama Bukunya (italic),
c. diikuti dengan kata “Dalam” lalu nama pengarang buku yang ditumpangi,
d. kemudian nama bukunya (italic),
e. Jilid (kalau ada), kemudian
f. Data Penerbitannya.
Contoh:
Al‐Sayutiy, Jalal al‐Din. Lubab al‐Nuqul fi Asbab al‐Nuzul. Dalam al‐Sayutiy, Jalal al‐Din ibn Abd Rahman ibn Abu Bakr, dan Jalal al‐Din Muhammad ibn Ahmad al‐Mahalliy. Tafsir al‐Qur’an al‐‘Azim. Juz I. Beirut: Dar al‐Fikr, 1401 H.
Posting Komentar untuk "Cara penulisan daftar pustaka"