Makalah Karakter atau Budi Pekerti dalam Kepemimpinan Nasional Pendidikan
Karakter atau Budi Pekerti dalam Kepemimpinan Nasional Pendidikan
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik dan benar, serta tepat pada waktunya. Dalam makalah ini kami akan membahas mengenai “Karakter/Budipekerti Dalam Kepemimpinan Nasional Pendidikan”.Karya tulis ini telah dibuat dengan berbagai observasi dan beberapa bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Batam, November 2013
PENULIS
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia sudah ditakdirkan hidup berkelompok berdasarkan kepentingan bersama . kepentingan kelompok yang semakin beragam dan majunya tingkat berpikir manusia. Untuk mencapai kepentingan kelompok diperlukan seseorang pemimpin untuk mengarahkan dan mengerahkan semua unsur dalam organisasi seperti manusia dengan pola tingkah laku dan pemikiran yang berbeda, sarana dan prasarana , serta dana agar menjadi satu potensi dalam rangka mencapai tujuan bersama.
Dalam kondisi Negara yang seperti ini diperlukan seorang pemimpin yang mampu merekat bangsa demi utuhnya Negara kesatuan republik Indonesia ( NKRI). Menghadapi kondisi seperti ini tidak sekedar pemimpin-peminpin tetapi dituntut kualitas kepemimpinan. Kualitas seorang pemimpin tampak pada kemampuannya menggerakkan, memberi bimbingan, perintah dan motivasi sehingga bawahan termotivasi untuk berbuat demi kepentingan bersama mencapai tujuan yang disepakati bersama. Sehubungan dengan itu, arti kepemimpinan adalah suatu kiat ilmu dan seni memimpin yang tampak pada usaha mempengaruhi orang lain terutama bawahan yang dipimpinnya untuk menaati perintah dan petunjuk secara suka rela guna mencapai tujuan organisasi
Kepemimpinan nasional terkait kuat dengan kekuasaan, dimana dalam rezim Orde baru (ORBA) sarat dengan muatan kekuasaan. Kekuasaan merupakan salah satu kapasitas atau modal dasar kemampuan untuk mempengaruhi orang lain ( rakyat yang dipimpin langsung) untuk bertindak sesuai perintah dan petunjuk pemimpin yang berkuasa.
Situasi dan kondisi yang selalu berubah ini disebabkan oleh system kehidupan sosial yang selalu berubah yang cenderung kearah yang lebih meningkat/maju. Oleh karena itu strategi kepemimpinn pun tidak statis tetapi dinamis sesuai dengan arah gerakan perubahan tersebut.
B. Rumusan Masalah
- Apakah yang dimaksud dengan karakter / budi pekerti dalam kepemimpinan nasional pendidikan?
- Bagaimanakah kriteria karakter/ budi pekerti dalam kepemimpinan nasional pendidikan ?
C. Tujuan Penelitian
- Untuk mengetahui pengertian karakter/ budi pekerti dalam kepemimpinan nasional pendidikan
- Untuk mengatahui kriteria karakter / budi pekerti dalam kepemimpinan nasional pendidikan
- Dapat dijadikan pedoman untuk menjadi pemimpin yang memiliki karakter / budi perkerti nasional pendidikan yang baik dan benar
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Karakter/ Budi Pekerti
Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat, watak. Berkarakter artinya mempunyai watak mempunyai kepribadian (Kamisa, 1997: 21).
Budi pekerti dapat diartikan sebagai perpaduan dari hasil rasio dan rasa yang bermanifestasi pada karsa dan tingkah laku manusia. Penerapan budi pekerti tergantung kepada pelaksanaanya. Budi pekerti dapat bersifat positif maupun negatif. Budi pekerti itu sendiri selalu dikaitkan dengan tingkah laku manusia.
B. Pengertian Kepemimpinan Nasional
Menurut Prof. Dr. Mustopadidjaja, bahwa Kepemimpinan Nasional diartikan sebagai Sistem Kepemimpinan dalam rangka penyelenggaraan negara dan pembangunan bangsa, meliputi berbagai unsur dan srtuktur kelembagaan yang berkembang dalam kehidupan Pemerintahan negara dan masyarakat, yang berperan mengemban misi perjuangan mewujudkan cita-cita dan tujuan bangsa sesuai dengan posisi masing-masing dalam Pemerintahan dan masyarakat, mernurut niali-nilai kebangsaan dan perjuangan yang diamanatkan konstitusi negara.
Secara struktural, Kepemimpinan Nasional terdiri dari pejabat lembaga-lembaga pemerintahan negara dan pemimpin lembaga-lembaga yang berkembang dalam masyarakat, yang secara fungsional berperan dan berkewajiban memimpin orang dan lembaga yang dipimpinnya dalam upaya mewujudkan cita-cita dan tujuan bernegara.
Menurut Anwar Ibarahim, bahwa kepemimpinan haruslah peka dan prihatin terhadap suara dan aspirasi rakyat serta merumuskan cara pendekatan yang melibatkan rakyat. Beliau menekankan pada konsep Syura’ (musyawarah) dan demokrasi penyetaraan
Pemimpin Naisonal adalah sosok yang mampu memahami kebutuhan dan aspirasi rakyat Indonesia secara keseluruhan dan menghayati nilai-nilai yang berlaku, agar mempunyai kemampuan memberi inspirasi kepada bangsa Indonesia dan mempunyai visi yang sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia.
C. Landasan Kepemimpinan Nasional
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah perlu terus-menerus memperbaharui pemahaman dan kesepakatan bersama dalam membangun Indonesia. Kesepakatan ini dipandu oleh visi Indonesia jangka menengah dan jangka panjang. Arah Indonesia dalam jangka panjang 2005-2025 telah ditetapkan dalam UU Nomor 17 tahun 2007, tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional. Sedangkan dalam jangka menengah, kita segera akan menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahap kedua tahun 2009-2014. Dalam konteks ini, proses penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah baik di tingkat Nasional maupun di masing-masing Daerah harus diserasikan. Dengan demikian, strategi dan pelaksanaan pembangunan Indonesia yang inklusif dapat segera dilaksanakan secara efektif dan saling menunjang. Peran kepemimpinan nasional untuk mengarahkan pembangunan nasional ini menjadi kunci keberhasilan pencapaian berbagai sasaran pembangunan yang telah ditetapkan.
Wawasan kebangsaan para pimpinan nasional yang tertuang dalam pemahaman akan empat pilar (Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI) menjadi dasar bagi pembentukan kepemimpinan nasional yang baik. Dalam pendekatan teori Kepemimpinan Nasional, wawasan nusantara dan ketahanan nasional merupakan cara pandang dan konsepsi berpikir untuk menata kehidupan berbangsa dan bernegara. Setiap pimpinan di semua level sebagai mana diamanatkan presiden terutama pada tataran kebijakan dan operasional harus memiliki pemahaman dan penghayatan yang sama tentang hal ini agar terhindar dari sikap ego kedaerahan, mencari prestise dan menikmati enaknya jadi pemimpin. Visi, persepsi dan interpretasi, keserasian, keseimbangan dan rasa memiliki serta bertanggungjawab menjadi dasar penyelarasan pengembangan iptek di berbagai level. Melalui pemahaman Wasantara dengan benar akan terlihat implementasi kepemimpinan yang mempunyai wawasan kebangsaan serta meletakan penjabaran kepentingan nasional diatas segalanya dengan diilhami visi pada konsepsi Ketahanan Nasional
Peran Kepemimpinan Nasional dalam Pendidikan
1. Peran Pemimpin dalam Manajemen Sumber Daya Manusia (MMSDM)
Peranan seorang pemimpin dalam manajemen SDM adalah :
Melaksanakan fungsi-fungsi manajemen untuk memperoleh hasil yang ditargetkan yang telah menjadi kesepakatan bersama.
Mengembangkan dan memperbaiki sistem agar program pengembangan mutu SDM berhasil sesuai harapan.
Melaksanakan beberapa hal yang benar “People who do the right thing” (karakter seorang pemimpin) dan melaksanakan sesuatu secara benar atau disebut “People who do things right” (karakter seorang manajer).
Menentukan suatu elemen manajemen mutu SDM yang dibuktikan nyata dalam pelaksanaan program untuk pencapaian tujuan.
Melaksanakan fungsi-fungsi manajemen untuk memperoleh hasil yang ditargetkan yang telah menjadi kesepakatan bersama.
Mengembangkan dan memperbaiki sistem agar program pengembangan mutu SDM berhasil sesuai harapan.
Melaksanakan beberapa hal yang benar “People who do the right thing” (karakter seorang pemimpin) dan melaksanakan sesuatu secara benar atau disebut “People who do things right” (karakter seorang manajer).
Menentukan suatu elemen manajemen mutu SDM yang dibuktikan nyata dalam pelaksanaan program untuk pencapaian tujuan.
2. Peran Pemimpin Dalam Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan dalam tinjauan perilaku mencerminkan karakter bagi seorang pemimpin. Untuk mengetahui baik tidaknya keputusan yang diambil bukan hanya dinilai dari konsekuensi yang ditimbulkannya, melainkan melalui berbagai pertimbangan dalam prosesnya. Kegiatan pengambilan keputusan merupakan salah satu bentuk kepemimpinan, sehingga:
Teori keputusan merupakan metodologi untuk menstrukturkan dan menganalisis situasi yang tidak pasti atau berisiko, dalam konteks ini keputusan lebih bersifat perspektif daripada deskriptif
Pengambilan keputusan adalah proses mental dimana seorang manajer memperoleh dan menggunakan data dengan menanyakan hal lainnya, menggeser jawaban untuk menemukan informasi yang relevan dan menganalisis data; manajer, secara individual dan dalam tim, mengatur dan mengawasi informasi terutama informasi bisnisnya.
Pengambilan keputusan adalah proses memilih di antara alternatif-alternatif tindakan untuk mengatasi masalah.Dalam pelaksanaannya, pengambilan keputusan dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu proses dan gaya pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan, dilakukan melalui beberapa tahapan seperti:
Teori keputusan merupakan metodologi untuk menstrukturkan dan menganalisis situasi yang tidak pasti atau berisiko, dalam konteks ini keputusan lebih bersifat perspektif daripada deskriptif
Pengambilan keputusan adalah proses mental dimana seorang manajer memperoleh dan menggunakan data dengan menanyakan hal lainnya, menggeser jawaban untuk menemukan informasi yang relevan dan menganalisis data; manajer, secara individual dan dalam tim, mengatur dan mengawasi informasi terutama informasi bisnisnya.
Pengambilan keputusan adalah proses memilih di antara alternatif-alternatif tindakan untuk mengatasi masalah.Dalam pelaksanaannya, pengambilan keputusan dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu proses dan gaya pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan, dilakukan melalui beberapa tahapan seperti:
- Identifikasi masalah
- Mendefinisikan masalah
- Memformulasikan dan mengembangkan alternative
- Implementasi keputusan
- Evaluasi keputusan
Gaya pengambilan keputusan, Gaya adalah lear habit atau kebiasaan yang dipelajari. Gaya pengambilan keputusan merupakan kuadran yang dibatasi oleh dimensi. Cara berpikir, terdiri dari:
- Logis dan rasional; mengolah informasi secara serial
- Intuitif dan kreatif; memahami sesuatu secara keseluruhan.
- Toleransi terhadap ambiguitas
- Kebutuhan yang tinggi untuk menstruktur informasi dengan cara meminimalkan ambiguitas
- Kebutuhan yang rendah untuk menstruktur informasi, sehingga dapat memproses banyak pemikiran pada saat yang sama.
3. Peran Pemimpin Dalam Pembangunan Tim
Definisi Tim :
Tim adalah kelompok kerja yang dibentuk dengan tujuan untuk menyukseskan tujuan bersama sebuah kelompok organisasi atau masyarakat.
Unit kerja yang solid yang mempunyai identifikasi keanggotaan maupun kerja sama yang kuat
Tim adalah kelompok kerja yang dibentuk dengan tujuan untuk menyukseskan tujuan bersama sebuah kelompok organisasi atau masyarakat.
Unit kerja yang solid yang mempunyai identifikasi keanggotaan maupun kerja sama yang kuat
Peranan kepemimpinan dalam tim :
- Memperlihatkan gaya pribadi
- Proaktif dalam sebagian hubungan
- Mengilhami kerja tim
- Memberikan dukungan timbal balik
- Membuat orang terlibat dan terikat
- Memudahkan orang lain melihat peluang dan prestasi
- Mencari orang yang ingin unggul dan dapat bekerja secara kontruktif
- Mendorong dan memudahkan anggota untuk bekerja
- Mengakui prestasi anggota tim
- Berusaha mempertahankan komitmen
- Menempatkan nilai tinggi pada kerja tim
4 Peran Pemimpin Sebagai Pembangkit Semangat
Peran pemimpin dalam pemberian semangat dapat dilakukan dengan cara :- Memberikan pujian dan dukungan
- Memberikan penghargaan berupa kata-kata dan insentif
- Penambahan sarana kerja
- Penambahan staf yag berkualitas
- Perbaikan lingkungan kerja
- Memberikan Drive/dorongan yang akan menghasilkan inisiatif, dan menimbulkan energi yang tinggi dan hasrat untuk berprestasi (Motivation)
- Menumbuhkan Self Confidence/percaya diri
- Knowledge/pengetahuan, pemahaman yang penuh tentang organisasi.
5. Peran Menyampaikan Informasi
Informasi merupakan jantung kualitas perusahaan atau organisasi. Penyampaian atau penyebaran informasi harus dirancang sedemikian rupa sehingga informasi benar-benar sampai kepada komunikan yang dituju dan memberikan manfaat yang diharapkan. Informasi yang disebarkan harus secara terus-menerus dimonitor agar diketahui dampak internal maupun eksternalnya. Monitoring tidak dapat dilakukan asal-asalan saja, tetapi harus betul-betul dirancang secara efektif dan sistemik.
Pemimpin harus menjalankan peran consulting baik ke ligkungan internal organisasi maupun ke luar organisasi secara baik, sehingga tercipta budaya organisasi yang baik pula. Sebagai orang yang berada di puncak dan dipandang memiliki pengetahuan yang lebih baik dibanding yang dipimpin, seorang pemimpin juga harus mampu memberikan bimbingan yang tepat dan simpatik kepada bawahannya yang mengalami masalah dalam melaksanakan pekerjaannya.
Pemimpin harus menjalankan peran consulting baik ke ligkungan internal organisasi maupun ke luar organisasi secara baik, sehingga tercipta budaya organisasi yang baik pula. Sebagai orang yang berada di puncak dan dipandang memiliki pengetahuan yang lebih baik dibanding yang dipimpin, seorang pemimpin juga harus mampu memberikan bimbingan yang tepat dan simpatik kepada bawahannya yang mengalami masalah dalam melaksanakan pekerjaannya.
Model Kepemimpinan Nasional Pendidikan yang Berkarakter/ Budi Pekerti
1. MODEL-MODEL KEPEMIMPINAN :
A. MODEL WATAK KEPEMIMPINAN
Pada umumnya studi-studi kepemimpinan pada tahap awal mencoba meneliti tentang watak individu yang melekat pada diri para pemimpin, seperti misalnya: kecerdasan, kejujuran, kematangan, ketegasan, kecakapan berbicara, kesupelan dalam bergaul, status social ekonomi, dan lain-lain (Bass 1960, Stogdill 1974).
Stogdill (1974) menyatakan bahwa terdapat enam kategori factor pribadi yang membedakan antara pemimpin dan pengikut yaitu kapasitas, prestasi, tanggung jawab, partisipasi, status dan situasi. Namun demikian banyak studi yang menunjukkan bahwa factor-faktor yang membedakan antara pemimpin dan pengikut dalam satu studi tidak konsisten dan tidak didukung dengan hasil-hasil studi yang lain.
Disamping itu watak pribadi bukanlah factor yang dominant dalam menentukan keberhasilan kinerja managerial para pemimpin. Hingga tahun 1950-an, lebih dari 100 studi yang telah dilakukan untuk untuk mengindifikasi watak atau sifat personal yang dibutuhkan oleh pemimpin yang baik, dan dari studi-studi tersebut dinyatakan bahwa hubungan antara karakteristik, watak dengan efektifitas kepemimpinan, walupun positif tetapi signifikasinya sangat rendah (Stogdill 1970).
Bukti-bukti yang ada menyarankan bahwa apabila kepemimpinan didasarkan pada factor situasi, maka pengaruh watak yang dimiliki oleh para pemimpin mempunyai pengaruh yang tidak segnifikan. Kegagalan studi-studi tentang kepemimpinan pada periode awal ini yang tidak berhasil meyakinkan adanya hubungan yang jelas antara watak pribadi pemimpin dan kepemimpinan membuat para peneliti untuk mencari factor-faktor lain (selain factor watak), seperti misalnya factor situasi yang diharapkan dapat secara jelas menerangkan perbedaan karakteristik antara pemimpin dan pengikut.
Stogdill (1974) menyatakan bahwa terdapat enam kategori factor pribadi yang membedakan antara pemimpin dan pengikut yaitu kapasitas, prestasi, tanggung jawab, partisipasi, status dan situasi. Namun demikian banyak studi yang menunjukkan bahwa factor-faktor yang membedakan antara pemimpin dan pengikut dalam satu studi tidak konsisten dan tidak didukung dengan hasil-hasil studi yang lain.
Disamping itu watak pribadi bukanlah factor yang dominant dalam menentukan keberhasilan kinerja managerial para pemimpin. Hingga tahun 1950-an, lebih dari 100 studi yang telah dilakukan untuk untuk mengindifikasi watak atau sifat personal yang dibutuhkan oleh pemimpin yang baik, dan dari studi-studi tersebut dinyatakan bahwa hubungan antara karakteristik, watak dengan efektifitas kepemimpinan, walupun positif tetapi signifikasinya sangat rendah (Stogdill 1970).
Bukti-bukti yang ada menyarankan bahwa apabila kepemimpinan didasarkan pada factor situasi, maka pengaruh watak yang dimiliki oleh para pemimpin mempunyai pengaruh yang tidak segnifikan. Kegagalan studi-studi tentang kepemimpinan pada periode awal ini yang tidak berhasil meyakinkan adanya hubungan yang jelas antara watak pribadi pemimpin dan kepemimpinan membuat para peneliti untuk mencari factor-faktor lain (selain factor watak), seperti misalnya factor situasi yang diharapkan dapat secara jelas menerangkan perbedaan karakteristik antara pemimpin dan pengikut.
B. MODEL KEPEMIMPINAN SITUASIONAL
Model kepemimpinan situasional merupakan pengembangan model watak kepemimpinan dengan focus utama factor situasi sebagai variable penentu kemampuan kepemimpinan.Studi-studi kepemimpinan situasional mencoba mengidentifikasi karakteristik situasi atau keadaan sebagai factor penentu utama yang membuat seorang pemimpin berhasil melaksanakan tugas-tugas organisasi secara efektif dan efisien. Dan juga model ini membahas aspek kepemimpinan lebih berdasarkan fungsinya, bukan lagi hanya berdasarkan watak kepribadian pemimpin.
Hencley (1973) menyatakan bahwa factor situasi lebih menentukan keberhasilan seorang pemimpin dibandingkan watak pribadinya, menurut pendekatan kepemimpinan situasional ini seseorang bisa dianggap sebagai pemimpin atau pengikut tergantung pada situasi atau keadaan yang dihadapi.Banyak studi yang mencoba untuk mengidentifikasi karakteristik situasi khusus yang mempengaruhi kinerja para pemimpin.
Hoy dan Miskel (1987) menyatakan bahwa terdapat empat factor yang mempengaruhi kinerja pemimpin, yaitu sifat structural organisasi, iklim atau lingkungan organisasi, karakteristik tugas atau peran dan karakteristik bawahan.
Kajian model kepemimpinan situasional lebih menjelaskan fenomena kepemimpinan dibandingkan dengan model terdahulu.Namun demikian model ini masih dianggap belum memadai karena model ini tidak dapat memprediksikan kecakapan kepemimpinan yang mana yang lebih efektif dalam situasi tertentu.
Hencley (1973) menyatakan bahwa factor situasi lebih menentukan keberhasilan seorang pemimpin dibandingkan watak pribadinya, menurut pendekatan kepemimpinan situasional ini seseorang bisa dianggap sebagai pemimpin atau pengikut tergantung pada situasi atau keadaan yang dihadapi.Banyak studi yang mencoba untuk mengidentifikasi karakteristik situasi khusus yang mempengaruhi kinerja para pemimpin.
Hoy dan Miskel (1987) menyatakan bahwa terdapat empat factor yang mempengaruhi kinerja pemimpin, yaitu sifat structural organisasi, iklim atau lingkungan organisasi, karakteristik tugas atau peran dan karakteristik bawahan.
Kajian model kepemimpinan situasional lebih menjelaskan fenomena kepemimpinan dibandingkan dengan model terdahulu.Namun demikian model ini masih dianggap belum memadai karena model ini tidak dapat memprediksikan kecakapan kepemimpinan yang mana yang lebih efektif dalam situasi tertentu.
C. MODEL PEMIMPIN YANG EFEKTIF
Model kajian kepemimpinan ini memberikan informasi tentang type-type tingkah laku para pemimpin yang efektif.Tingkah laku para pemimpin dapat dikategorikan menjadi dua dimensi, yaitu struktur kelembagaan dan konsiderasi.
· Dimensi struktur kelembagaan menggambarkan sampai sejauh mana pemimpin mendefinisikan dan menyusun interaksi kelompok dalam rangka mencapai tujuan organisasi serta sejauh mana para pemimpin mengorganisasikan kegiatan-kegiatan kelompok mereka, dimensi ini dikaitkan dengan usaha para pemimpin mencapai tujuan organisasi.
· Dimensi konsiderasi menggambarkan sampai sejauh mana tingkat hubungan kerja antara pemimpin dan bawahannya, dan sampai sejauh mana pemimpin memperhatikan kebutuhan social dan emosi bagi bawahan, misalnya kebutuhan akan pengakuan, kepuasan kerja dan penghargaan yang mempengaruhi kinerja mereka dalam organisasi. Dimensi konsiderasi ini juga dikaitkan dengan adanya pendekatan kepemimpinan yang mengutamakan komunikasi dua arah, partisipasi dan hubungan manusiawi.
Halpin (1966) menyatakan bahwa tingkah laku pemimpin yang efektif cenderung menunjukkan kinerja yang tinggi terhadap dua aspek diatas.Dia berpendapat bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang menata kelembagaan organisasinya secara sangat terstruktur dan mempunyai hubungan dan persahabatan yang sangat baik. Secara ringkas model kepemimpinan efektif ini mendukung anggapan bahwa pemimpin yang efektif adalah pamimpin yang dapat menangani kedua aspek organisasi dan manusia sekaligus dalam organisasinya.
· Dimensi struktur kelembagaan menggambarkan sampai sejauh mana pemimpin mendefinisikan dan menyusun interaksi kelompok dalam rangka mencapai tujuan organisasi serta sejauh mana para pemimpin mengorganisasikan kegiatan-kegiatan kelompok mereka, dimensi ini dikaitkan dengan usaha para pemimpin mencapai tujuan organisasi.
· Dimensi konsiderasi menggambarkan sampai sejauh mana tingkat hubungan kerja antara pemimpin dan bawahannya, dan sampai sejauh mana pemimpin memperhatikan kebutuhan social dan emosi bagi bawahan, misalnya kebutuhan akan pengakuan, kepuasan kerja dan penghargaan yang mempengaruhi kinerja mereka dalam organisasi. Dimensi konsiderasi ini juga dikaitkan dengan adanya pendekatan kepemimpinan yang mengutamakan komunikasi dua arah, partisipasi dan hubungan manusiawi.
Halpin (1966) menyatakan bahwa tingkah laku pemimpin yang efektif cenderung menunjukkan kinerja yang tinggi terhadap dua aspek diatas.Dia berpendapat bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang menata kelembagaan organisasinya secara sangat terstruktur dan mempunyai hubungan dan persahabatan yang sangat baik. Secara ringkas model kepemimpinan efektif ini mendukung anggapan bahwa pemimpin yang efektif adalah pamimpin yang dapat menangani kedua aspek organisasi dan manusia sekaligus dalam organisasinya.
D. MODEL KEPEMIMPINAN KONTINGENSI
Studi kepemimpinan jenis ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara karakteristis watak pribadi pemimpin, tingkah lakunya dan fariabel-fariabel situasional.
Kalau model kepemimpinan situasional berasumsi bahwa situasi yang berbeda membutuhkan type kepemimpinan yang berbeda, maka model kepemimpinan kontingensi memfokuskan perhatian yang lebih luas, yakni pada aspek-aspek keterkaitan antara kondisi / variable situasional dengan watak atau tingkah laku dan criteria kinerja pemimpin (Hoy and Miskel 1987).
Fiedler (1967) beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan dan sesuai situasi yang dihadapinya. Menurutnya ada tiga factor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiganya ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin, ketiga factor tersebut adalah:
Kalau model kepemimpinan situasional berasumsi bahwa situasi yang berbeda membutuhkan type kepemimpinan yang berbeda, maka model kepemimpinan kontingensi memfokuskan perhatian yang lebih luas, yakni pada aspek-aspek keterkaitan antara kondisi / variable situasional dengan watak atau tingkah laku dan criteria kinerja pemimpin (Hoy and Miskel 1987).
Fiedler (1967) beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan dan sesuai situasi yang dihadapinya. Menurutnya ada tiga factor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiganya ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin, ketiga factor tersebut adalah:
- Hubungan antara pemimpin dan bawahan, yaitu sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan untk mengikuti petunjuk pemimpin.
- Struktur tugas yaitu sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku.
- Kekuatan posisi, yaitu sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin, karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing. Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan, promosi dan penurunan pangkat.
Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan model-model sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi, namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi, tingkah laku pemimpin dan variable situasional.
2. Model Kpemimpinan Masa Kini (sekarang)
A. MODEL KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL.
Kepemimpinan transaksional adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan serta ditetapkan dengan jelas peran dan tugas-tugasnya.
Menurut Masi and Robert (2000), kepemimpinan transaksional digambarkan sebagai mempertukarkan sesuatu yang berharga bagi yang lain antara pemimpin dan bawahannya (Contingen Riward), intervensi yang dilakukan oleh pemimpin dalam proses organisasional dimaksudkan untuk mengendalikan dan memperbaiki kesalahan yang melibatkan interaksi antara pemimpin dan bawahannya bersifat pro aktif.Kepemimpinan transaksional aktif menekankan pemberian penghargaan kepada bawahan untuk mencapai kinerja yang diharapkan. Oleh karena itu secara pro aktif seorang pemimpin memerlukan informasi untuk menentukan apa yang saat ini dibutuhkan bawahannya.
Berdasarkan dari uraian tersebut diatas, maka dapat dikatakan bahwa prinsip utama dari kepemimpinan transaksional adalah mengaitkan kebutuhan individu pada apa yang diinginkan pemimpin untuk dicapai dengan apa penghargaan yang diinginkan oleh bawahannya memungkinkan adanya peningkatan motivasi bawahan. Steers (1996).
Kepemimpinan transaksional adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan serta ditetapkan dengan jelas peran dan tugas-tugasnya.
Menurut Masi and Robert (2000), kepemimpinan transaksional digambarkan sebagai mempertukarkan sesuatu yang berharga bagi yang lain antara pemimpin dan bawahannya (Contingen Riward), intervensi yang dilakukan oleh pemimpin dalam proses organisasional dimaksudkan untuk mengendalikan dan memperbaiki kesalahan yang melibatkan interaksi antara pemimpin dan bawahannya bersifat pro aktif.Kepemimpinan transaksional aktif menekankan pemberian penghargaan kepada bawahan untuk mencapai kinerja yang diharapkan. Oleh karena itu secara pro aktif seorang pemimpin memerlukan informasi untuk menentukan apa yang saat ini dibutuhkan bawahannya.
Berdasarkan dari uraian tersebut diatas, maka dapat dikatakan bahwa prinsip utama dari kepemimpinan transaksional adalah mengaitkan kebutuhan individu pada apa yang diinginkan pemimpin untuk dicapai dengan apa penghargaan yang diinginkan oleh bawahannya memungkinkan adanya peningkatan motivasi bawahan. Steers (1996).
B. MODEL KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL
Teori ini mengacu pada kemampuan seorang pemimpin untuk memberikan pertimbangan dan rangsangan intelektual yang individukan dan yang memiliki charisma. Dengan kata lain pemimpin transformasional adalah pemimpin yang mampu memperhatikan keprihatinan dan kebutuhan pengembangan diri pengikut untuk mengeluarkan upaya ekstra untuk mencapai tujuan kelompok.
Pemimpin transaksional pada hakekatnya menekankan bahwa seorang pemimpin perlu menentukan apa yang perlu dilakukan para bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi. Disamping itu pemimpin transaksional cenderung memfokuskan diri pada penyelesaian tugas-tugas organisasi.Untuk memotivasi agar bawahan melekukan tanggung jawab mereka, para pemimpin transaksional sangat mengandalkan pada system pemberian penghargaan dan hukuman pada bawahannya.
Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa pamimpin transformasional merupakan pemimpin yang kharismatik dan mempunyai peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. Pemimpin transformasional juga harus mempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan bawahannya, serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan.
Yamarino dan Bass (1990), pemimpin trasformasional harus mampu membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar.Bass dan Avolio (1994), mengemukakan bahwa kepemimpinan transformasional mempunyai empat dimensi yang disebutnya sebagai “The Four I’s”:
Pemimpin transaksional pada hakekatnya menekankan bahwa seorang pemimpin perlu menentukan apa yang perlu dilakukan para bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi. Disamping itu pemimpin transaksional cenderung memfokuskan diri pada penyelesaian tugas-tugas organisasi.Untuk memotivasi agar bawahan melekukan tanggung jawab mereka, para pemimpin transaksional sangat mengandalkan pada system pemberian penghargaan dan hukuman pada bawahannya.
Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa pamimpin transformasional merupakan pemimpin yang kharismatik dan mempunyai peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. Pemimpin transformasional juga harus mempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan bawahannya, serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan.
Yamarino dan Bass (1990), pemimpin trasformasional harus mampu membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar.Bass dan Avolio (1994), mengemukakan bahwa kepemimpinan transformasional mempunyai empat dimensi yang disebutnya sebagai “The Four I’s”:
- Perilaku pemimpin yang membuat para pengikutnya mengagumi, menghormati sekaligus mempercayai (Pengaruh ideal).
- Pemimpin transformasional digambarkan sebagai pemimpin yang mampu mengartikulasikan pengharapan yang jelas terhadap prestasi bawahan (Motivasi-inspirasi)
- Pemimpin transformasional harus mampu menumbuhkan ide-ide baru, memberikan solusi yang kreatif terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi bawahan (stimulasi intelektual).
- Pemimpin transformasional digambarkan sebagai seorang pemimpin yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian masukan-masukan bawahan dan secara khusus mau memperhatikan kebutuhan-kebutuhan bawahan akan pengembangan karir (konsederasi individu).
Banyak peneliti dan praktisi managemen yang sepakat bahwa model kepemimpinan transformasional merupakan konsep kepemimpinan yang terbaik dalam menguraikan karakteristik pemimpin (Sarros dan Butchatsky 1996).
Hasil survey Parry (2000) yang dilakukan di New Zealand, menunjukkan tidak ada pertentangan dengan penemuan-penemuan sebelumnya tentang efektifitas kepemimpinan transformasional. Disamping itu Parry juga berpendapat bahwa kepemimpinan transformasional dapat dilatihkan, pendapat ini didasarkan pada temuan-temuannya yaitu keberhasilan pelatihan kepemimpinan transformasional yang dilakukan di New Zealand sebagai berikut:
Hasil survey Parry (2000) yang dilakukan di New Zealand, menunjukkan tidak ada pertentangan dengan penemuan-penemuan sebelumnya tentang efektifitas kepemimpinan transformasional. Disamping itu Parry juga berpendapat bahwa kepemimpinan transformasional dapat dilatihkan, pendapat ini didasarkan pada temuan-temuannya yaitu keberhasilan pelatihan kepemimpinan transformasional yang dilakukan di New Zealand sebagai berikut:
- Berhasil meningkatkan kemampuan pelaksanaan kepemimpinan transformasional lebih dari 11% (dilihat dari peningkatan hasil usahanya) setelah dua hingga tiga bulan dilatih.
- Berhasil meningkatkan kegiatan kerja bawahan sebesar 11% setelah dua hingga tiga bulan dilatih.
Fungsi Karakter atau Budi Pekerti dalam Kepemimpinan Pendidikan
Dalam dunia pendidikan, kerjasama, membantu menyelesaikan masalah dan pengarahan itu merupakan bagian terpenting dalam terlaksananya tujuan pendidikan. Oleh karena itu, fungsi kepemimpinan dalam pendidikan harus mengarah kesana. Menurut Dr. Hadari Naawawi, ada empat fungsi kepemimpinan dalam pendidikan, yakni:
- Mengembangkan dan menyalurkan kebebasan berfikir dan mengeluarkan pendapat, baik secara perorangan maupun kelompok.
- Mengembangkan suasana kerjasama yang efektif dan kesediaan menghargai orang lain sesuai dengan kemampuan masing-masing.
- Mengusahakan dan mendorong terjadinya pertemuan pendapat dengan sikap harga mengahargai sehingga ikut terlibat di kegiatan kelompok/organisasi.
- Membantu menyelesaikan masalah-masalah, baik yang dihadapi secara perorangan maupun kelompok dengan memberikan petujuk-petunjuk dalam mengatasinya sehingga berkembang kesediaan untuk memecahkan masalahnya dengan kemampuannya sendiri
Ciri Kepemimpinan Nasional
Menurut Harrel, sifat utama kepemimpinan adalah:
- Kemauan keras (strong will)
- Pemimpin adalah seseorang yang mempunyai kemauan keras ingin maju.
- Mementingkan hal-hal yang lahir (extroversion)
- Pemimpin harus lebih mementingkan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadinya.
- Kebutuhan akan maju/kekuatan (power need)
- Pemimpin adalah seseorang yang mempunyai spirit ingin lebih baik.
- Kebutuhan akan prestasi (achievement need)
- Pemimpin adalah seorang yang mau maju dengan target-target prestasi.
Contoh Kepemimpinan Berkarakter atau Berbudi Pekerti
Kepemimpinan nasional yang dirindukan oleh rakyat sekarang ini adalah “keteladanan. Di Indonesia, Bung Karno proklamator kemerdekaan juga pemimpin nasional yang berani, yang senantiasa menyampingkan kepentingan pribadi dan kelompok demi persatuan dan kesatuan. Terbukti dengan keberaniannya mengantarkan bangsa dan Negara ini menuju kemerdekaan. Keputusannya memberlakukan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 mampu menyelamatkan bangsa dan Negara dari perpecahan. Kemudian dengan keberaniannya pada tahun 1961 memutuskan mengeluarkan Tri Komando Rakyat (Trikora) untuk merebut Irian Barat dari jajahan Belanda .
Sejarawan Indonesia juga mencatat bahwa Bung Hatta juga sebagai proklamator bersama Bung Karno, adalah pemimpin bangsa Indonesia. Sebagai negarawan ia tampil dengan keteladanan, kesederhanaannya, mengedepankan kepentingan nasional. Prasyarat untuk tumbuhnya demokrasi yang murni disamping dikawal oleh hukum juga faktor lain yaitu Negara yang memiliki pemimpin yang berkarakter kuat yang mampu bersaing dengan Negara-negara lain.
Beberapa contoh kepemimpinan yang berkarakter kuat :
Sejarawan Indonesia juga mencatat bahwa Bung Hatta juga sebagai proklamator bersama Bung Karno, adalah pemimpin bangsa Indonesia. Sebagai negarawan ia tampil dengan keteladanan, kesederhanaannya, mengedepankan kepentingan nasional. Prasyarat untuk tumbuhnya demokrasi yang murni disamping dikawal oleh hukum juga faktor lain yaitu Negara yang memiliki pemimpin yang berkarakter kuat yang mampu bersaing dengan Negara-negara lain.
Beberapa contoh kepemimpinan yang berkarakter kuat :
- Perdana mentri wanita pertama inggris Margaret Thatcher ( wanita besi ). Pemimpin yang tidak pernah putus asa jika tanda-tanda kemenangannya belum dilihat, ia berjuang sampau sukses, walau Thatcher sering pula mengalami kekalahan dalam dunia politik. Keputusannya penuh ketelitian, perhitungan, mendengar pendapat beberapa pihak.
- Le Kuan Yew, membawa Singapura yang semula hanya sebuah pulau kecil yang miskin sumberdaya menjadi Negara yang makmur. Le Kuan Yew adalah pemimpin bertangan besi yang dikuatkan oleh penegakan hukum tanpa pandang bulu, terutama bagi pejabat yang berjudi, korupsi, selingkuh dan lain-lain perbuatan negatif.
- Nelson Mandela presiden pertama Negara Afrika Selatan yang memiliki sifat kepemimpinan yang rendah hati seorang pemimpin sejati. Nelson seorang pemimpin besar yang rendah hati dan memiliki hati yang damai serta mau memaafkan orang lain yang membuat ia menderita dalam penjara selama 27 tahun. Apa yang ia lakukan adalah rekonsilasi nasional dengan cara menunjukkan kerendahan hati, kedamaian diri yang didukung oleh integritas yang kokoh, memiliki tahan diri dalam menghadapi kesulitan dan tantangan. (Roy dan Tim dalam Hamengku Buwono X, 2004 :8 )
- Goerge W. Bush presiden Amerika dengan tangan besinya, kekuasaannya kuat tak terbatas walau melanggar HAM sekalipun ia berhasil mempengaruhi sekutunya untuk menggempur negeri Osama Ben Laden hanya untuk mencari seseorang yang bernama Osama Ben Laden. Dengan kekuasaannya ia menjadikan AS polisi duniayang mampu mempengaruhi PBB. Dengan tangan besinya ia pula yang menghancurkan Irak hanya untuk mencari dan menangkap Saddam Husien.
BAB II
PENUTUP
Kesimpulan
Pemimpin Naisonal adalah sosok yang mampu memahami kebutuhan dan aspirasi rakyat Indonesia secara keseluruhan dan menghayati nilai-nilai yang berlaku, agar mempunyai kemampuan memberi inspirasi kepada bangsa Indonesia dan mempunyai visi yang sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia. Adapun peran kepemimpinan nasional pendidkan adalah sebagai berikut :
- Peran Pemimpin dalam Manajemen Sumber Daya Manusia (MMSDM)
- Peran Pemimpin Dalam Pengambilan Keputusan
- Peran pemimpin dalam pembangunan tim
- Peran Pemimpin Sebagai Pembangkit Semangat
- Peran Menyampaikan Informasi
Yang memiliki fungsi karakter/budi pekerti dalam kepemimpinan nasional pendidikan adalah sebagai berikut :
- Mengembangkan dan menyalurkan kebebasan berfikir dan mengeluarkan pendapat, baik secara perorangan maupun kelompok.
- Mengembangkan suasana kerjasama yang efektif dan kesediaan menghargai orang lain sesuai dengan kemampuan masing-masing.
- Mengusahakan dan mendorong terjadinya pertemuan pendapat dengan sikap harga mengahargai sehingga ikut terlibat di kegiatan kelompok/organisasi.
- Membantu menyelesaikan masalah-masalah, baik yang dihadapi secara perorangan maupun kelompok dengan memberikan petujuk-petunjuk dalam mengatasinya sehingga berkembang kesediaan untuk memecahkan masalahnya dengan kemampuannya sendiri
Menurut Harrel, sifat utama kepemimpinan adalah:
- Kemauan keras (strong will)Pemimpin adalah seseorang yang mempunyai kemauan keras ingin maju.
- Mementingkan hal-hal yang lahir (extroversion) Pemimpin harus lebih mementingkan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadinya.
- Kebutuhan akan maju/kekuatan (power need) Pemimpin adalah seseorang yang mempunyai spirit ingin lebih baik.
- Kebutuhan akan prestasi (achievement need) Pemimpin adalah seorang yang mau maju dengan target-target prestasi.
Kepemimpinan nasional yang dirindukan oleh rakyat sekarang ini adalah “keteladanan. Di Indonesia, Bung Karno proklamator kemerdekaan juga pemimpin nasional yang berani, yang senantiasa menyampingkan kepentingan pribadi dan kelompok demi persatuan dan kesatuan. Terbukti dengan keberaniannya mengantarkan bangsa dan Negara ini menuju kemerdekaan. Keputusannya memberlakukan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 mampu menyelamatkan bangsa dan Negara dari perpecahan. Kemudian dengan keberaniannya pada tahun 1961 memutuskan mengeluarkan Tri Komando Rakyat (Trikora) untuk merebut Irian Barat dari jajahan Belanda
Saran
Demikianlah makalah yang dapat kami sajikan semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Segala kesempurnaan hanyalah milik Tuhan yang maha esa dan segala kekurangaan sepenuhnya dari kami. Maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran dari teman-teman semua guna perbaikan/ revisi makalah kami selanjutnya.
Posting Komentar untuk "Makalah Karakter atau Budi Pekerti dalam Kepemimpinan Nasional Pendidikan"